Tuesday, 23 August 2016

 

Ada info terbaru nih bagi adik-adik siswa SD dan SMP tentang sayembara Penciptaan Puisi. Bagi adik-adik yang suka menulis, yuk ikutan sayembara ini. Jika tidak suka menulis, ikut aja, pasti suka hadiahnya. Hadiahnya lumayan untuk traktir orang tua, sahabat, teman, atau guru. Totalnya puluhan juta loh. Yuk langsung baca ketentuannya. 

Monday, 22 August 2016

Oleh Ahmad Tohari
Sumber;cerpenkompas
Korep, Carmi, dan Sopir Dalim adalah tiga di antara banyak manusia yang sering datang ke padang pembuangan sampah di pinggir kota. Dalim tentu manusia dewasa, sopir truk sampah berwarna kuning dengan dua awak. Dia pegawai negeri, suka lepas-pakai kacamatanya yang berbingkai tebal. Carmi sebenarnya masih terlalu muda untuk disebut gadis. Korep anak laki-laki yang punya noda bekas luka di atas matanya. Keduanya pemulung paling belia di antara warga padang sampah. 

Tuesday, 16 August 2016



oleh Zaidinoor

Belantaraini seperti memiliki kutukan. Rojik adalah orang ketiga yang dijemput ajal. Mayatnya terbujur kaku di hadapan kami. Seluruh tubuhnya menguning. Persis seperti dua teman kami sebelumnya. Sekarang yang tersisa hanya Budir dan aku. Dan hidup kami tak lebih dari undian mengerikan. Menduga-duga giliran siapa yangakan mati.
 
TAK ada siapa pun yang bisa dimintai pertolongan. Jarak antara permukiman warga lokal dan pondok kami hampir 10 kilometer. Tak mungkin kami berdua membopong tubuh Rojik naik turun gunung hanya untuk menguburkannya di permukiman sana. Kami menguburkan Rojik tepat di samping pondok.

Monday, 8 August 2016

oleh Agus Noor


KORUPTOR atau bukan, ada baiknya kalian menyimak cerita anjing Pak Kor ini. Setiap orang punya nasibnya sendiri-sendiri, tetapi kalau ada anjing yang nasibnya lebih beruntung dari manusia, sudah sepantasnya kalau kami iri.

Sunday, 7 August 2016

oleh Taufik Ismail


Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.
oleh Taufik Ismail

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala

oleh Sapardi Djoko Damono

kuhentikan hujan
kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan
ada yang berdenyut dalam diriku
menembus tanah basah
oleh Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
oleh Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini
oleh Sapardi Djoko Damono


 
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari